Eksistensi Bahasa Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0
Eksistensi
Bahasa Indonesia di
Era
Revolusi Industri 4.0
Diana Elisia
Universitas
Negeri Malang
Abstrak. Bahasa
Indonesia merupakan bahasa resmi negara Indonesia dan digunakan sebagai alat
komunikasi nasional. Selain itu, bahasa Indonesia juga merupakan cerminan jati
diri bangsa sekaligus sebagai alat pemersatu bangsa. Memasuki era globalisasi
khususnya revolusi industri 4.0 membawa dampak berupa transformasi hampir pada
semua bidang karena globalisasi melibatkan hubungan dialektis beragam unsur
sosial, termasuk bahasa. Era yang melahirkan fenomena disruption ini
mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Eksistensi bahasa Indonesia mulai tergeser oleh bahasa
asing yang semakin populer karena terdapat stigma bahwa penggunaan bahasa asing
lebih berkelas terutama di kalangan milenial. Hal ini menjadi suatu tantangan
bagi bangsa Indonesia sendiri untuk menumbuhkan kesadaran berbahasa terutama
pada generasi milenial yang merupakan generasi
ujung tombak berdirinya suatu bangsa. Pada akhirnya diperlukan
kapabiltas dalam berbahasa Indonesia sehingga dapat dijadikan sebagai sarana
untuk memanifestasikan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Kata kunci :
Bahasa Indonesia, era globalisasi, milenial
A.
Pendahuluan
Kecenderungan
sistem pada abad ke-21 yaitu tuntutan akan produk yang semakin kompleks dengan
proses yang lebih efektif dan efisien. Inti dari revolusi industri 4.0 adalah
pengenalan network-linked intelligent systems atau sebuah sistem yang
terhubung ke jaringan (Gubán
& Kovács, 2017). Survei yang dilakukan oleh PWC (2016) mendefinisikan tiga bidang yang menjadi fokus utama,
yaitu digitalisasi dan integrasi rantai
nilai vertikal dan horizontal, digitalisasi produk dan layanan, dan model
bisnis digital dan akses pelanggan.
Bahasa
Indonesia merupakan jati diri bangsa, sebagai sarana pemersatu berbagai suku
bangsa, dan sarana komunikasi antardaerah dan antarbudaya daerah. Dalam hal
ini, melalui UU No. 24 Tahun 2009 bahasa Indonesia memiliki kedudukan sebagai
bahasa nasional bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia juga memiliki fungsi bahasa
negara, yaitu sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar resmi dalam
pendidikan, komunikasi tingkat nasional, serta sarana pengembangan dan
pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa (Widyartono, n.d.-a)
Dimensi
bahasa berhubungan dengan proses globalisasi. Hal ini dikarenakan semua proses
globalisasi kontemporer yang sangat beragam secara inheren memiliki dimensi
bahasa dan pada umumnya, perubahan sosial adalah proses yang melibatkan
hubungan dialektis antara beraram elemen, termasuk bahasa di dalamnya (Fairclough, 2009). Sejalan dengan maraknya perkembangan di era
globalisasi, penggunaan bahasa asing juga semakin menjadi prioritas terutama di
kalangan kaula muda.
Bangsa
Indonesia harus siap dalam menghadapi tantangan lingustik pada era globalisasi,
terutama pada era revolusi industri 4.0. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia (2018) menyatakan salah satu pilar penopang tercapainya
cita-cita dan impian Indonesia tahun 2085 yaitu pembangunan Sumber Daya Manusia
dan penguasaan Iptek. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menyiapkan diri mulai
sekarang (Widyartono, n.d.-a) dan segera keluar dari masa redup identitas bangsa.
B.
Kedudukan dan
Fungsi Bahasa Indonesia dalam Pembangunan Bangsa
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Republik
Indonesia mempunyai fungsi khusus sesuai kepentingan bahasa Indonesia
(Devianty, 2017). Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, merupakan suatu alat
yang digunakan untuk menjalankan administrasi negara, surat menyurat dinas,
peraturan-peraturan, Undang-Undang, pidato. Sebagai bahasa persatuan, dalam
perjalanan yang panjang bahasa Indonesia telah menmpati kedudukan penting bahkan
menjadi lambang jati diri bangsa serta sebagai alat untuk mempersatukan
berbagai suku di Indonesia. Bahasa Indonesia memainkan peran yang penting dalam
mengintegrasikan berbagai macam suku dengan bahasa dan dialeknya sendiri. Sebagai bahasa kebudayaan, dalam pembinaan
kebudayaan nasional bahasa Indonesia berperan sebagai satu—satunya alat sebagai
penampung kebudayaan. Segala ilmu pengetahuan dan kebudayaan harus diajarkan
dan diperdalam dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat pengantarnya.
Kita sebagai warga
Indonesia patut bangga karena kedudukan bahasa Indonesia dalam hubungan dengan
masyarakat bangsa-bangsa di dunia dianggap sebagai salah satu bahasa penting
dan banyak dipelajari oleh masyarakat internasional (Widyartono, n.d.-b). Hal ini didukung oleh upaya Pusat Pengembangan
Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) yang terus mengirimkan tenaga
pengajar BIPA ke berbagai negara. Berdasarkan data yang disajikan oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019) mengenai pengiriman BIPA pada
tahun 2015-2018 terus menunjukkan peningkatan pada jumlah pemelajar.
C.
Revolusi Industri
4.0 dan Dampaknya Terhadap Eksistensi Bahasa Indonesia
Perkembangan teknologi serta munculnya Internet of
Things (IoT), cloud services, big data dan analytics
mendukung terciptanya konsep Cyber Physical System (CPS) industri 4.0 (Wang et al., 2015). Kerangka kerja konseptual teknologi industri 4.0
disusun oleh Frank et al., (2019) yang terbagi menjadi dua lapisan. Lapisan pertama (Industry
4.0 front-end technologies) terdiri dari empat dimensi utama industri 4.0 :
Smart manufacturing atau manufaktur cerdas, smart products atau
produk cerdas, Smart Supply Chain atau rantai pasokan cerdas, dan
Smart working atau kerja cerdas. Teknologi manufaktur cerdas bertugas
mempertimbangkan teknologi yang diterapkan dalam sistem produksi sehingga (Ahuett-Garza & Kurfess, 2018) dalam (Frank et al., 2019) menyimpulkan bahwa smart manufacturing merupakan
pilar sentral atau tujuan utama dari industri 4.0, sedangkan produk cerdas
merupakan sistem perluasan dari manufaktur cerdas karena untuk menambah nilai
eksternal produk, diperlukan informasi data pelanggan yang terintegrasi dengan
sistem produksi. Rantai pasokan cerdas
mencakup teknologi untuk meningkatkan pengiriman bahan baku dan produk jadi
sehingga sistem yang baik berdampak pada pengurangan biaya operasiona dan waktu
pengiriman. Kerja cerdas bertugas untuk mempertimbangkan teknologi yang
diterapkan untuk meningkatkan kinerja pekerja sehingga memastikan bahwa pekerja
bekerja dengan lebih produktif dan fleksibel.
Globalisasi adalah serangkaian proses transformasi
dalam organisasi yang menghasilkan hubungan antarwilayah dan jaringan aktivitas
interaksi, dan penggunaan kekuasaan. Interaksi jaringan di industri 4.0
mancakup interaksi antarwilayah global, dan hubungan dalam konteks ini merepresentasikan
dimensi bahasa. Tidak dapat dihindari bahwa globalisasi adalah sekumpulan
transformasi (dalam segala aspe kehidupan) yang benar-benar terjadi di lingkup
global (Fairclough, 2009). Perkembangan jaman yang semakin modern rentan
terpengaruh oleh globalisasi sehingga dapat dengan mudah mengeliminasi peran
bahasa (Murti, 2015; Solin, 2010). Salah satu faktor yang mendukung lingkup kehidupan
mengglobal adalah media massa atau industri komunikasi. Menurut (Fairclough, 2009) media televisi merupakan perantara komunikasi antar
masyarakat. Media televisi semakin memerikan akses tak terbatas mengenai gaya
hidup, informasi, serta linguistik yang melampaui lingkup internal diri
sendiri. Dampak negatif yang ditimbulkan salah satunya yaitu bahasa yang tak
dikendalikan serta disaring terlebih dahulu oleh masyarakat.
Jika dilihat dari geopolitik bahasa Indonesia dalam
konteks komunikasi di era globalisasi, khususnya era revolusi industri 4.0
memberikan peluang sekaligus ancaman bagi eksistensi bahasa Indonesia di ruang
publik (Rondiyah et al., 2017). Tak dipungkiri bahwa pemimpin Indonesia juga kerap
kali menggunakan bahasa asing dalam rangka untuk mengungkapkan pikirannya. Masyarakat
lebih memilih media massa atau jejaring sosial yang menggunakan struktur bahasa
Indonesia populer, khususnya di kalangan milenial. Fenomena ini diperkuat
dengan munculnya bahasa gaul atau bahasa alay. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa krisis identitas bangsa merupakan akibat dari melemahnya
beran bahasa. (Muslich, 2010) dalam (Assapari, 2014) menyatakan bahwa terdapat beberapa fenomena negatif
penggunaan bahasa di masyarakat Indonesia antara lain
a.
Mayoritas
masyarakat Indonesia kurang menguasai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Namun, dengan bangga menunjukkan kebolehan dalam mengunakan bahasa
Inggris.
b.
Penguasaan bahasa
Inggris menjadi lebih diutamakan jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia, hal
ini dibuktikan dengan fenomena bahwa banyak orang Indonesia akan merasa
terkucilkan jika tidak menguasai bahasa asing.
c.
Masyarakat
Indonesia cenderung tidak mau mempelajari bahasa Indonesia karena berpendapat
bahwa sudah menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Hal ini akan menimbulkan
pemilihan kosa kata yang keliru dalam berkomunikasi antar sesama.
d.
Masyarakat
Indonesia menganggap bahwa status sosial dapat meningkat jika fasih dalam berbahasa
Inggris walaupun penggunaan bahasa Indonesia masih kurang sempurna.
Berdasarkan
uraian diatas, (Assapari, 2014) menyatakan bahwa eksistensi penggunaan bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional dalam era globalisasi, khususnya era revolusi 4.0
semakin memudar. Ancaman terhadap eksistensi bahasa Indonesia di ruang publik
merupakan fakta atas kehadiran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris
D.
Peran Millenial
Dalam Pembangunan Bangsa
Dalam melaksanakan aktivitas
pembangunan bangsa, masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial harus
memiliki sikap positif terhadap keberadaan bahasa Indonesia. Ramdhani (2019) menjelaskan bahwa generasi milenial merupakan
generasi yang selalu terhubung dengan internet karena generasi milenial hidup
saat terjadi peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan
teknologi digital. Dengan kemampuan menguasai teknologi ini, generasi milenial
mampu mengembangkan colaboration (kerjasama), communication (komunikasi),
creativity (kreativitas), dan critical thinking (berpikir kritis)
(Noermanzah & Friantary, 2019) dan seiring perkembangan zaman, kemampuan ini
berkembang menjadi 6-C yaitu creatuvuty (kreativitas), colaboration (kerja
sama), communication (komunikasi), compassion (kasih sayang), critical
thinking (berpikir kritis), dan computational logic (logika
komputasi). Sulaeman (2017) menjelaskan bahwa bahasa yang hidup bersama
masyarakat merupakan budaya dan aset bangsa dan sudah sepantasnya kita jaga
serta kita lestarikan.
Generasi milenial memiliki andil
yang sangat penting dalam mengembangkan bahasa Indonesia sebagai upaya
pembangunan bangsa. Jumlah penduduk Indonesia yaitu sekitar 255 juta penduduk,
81 juta diantaranya merupakan generasi milenial (Ramdhani, 2019). Dengan populasi generasi milenial di Indonesia yang
terbilang banyak menjadi peluang untuk membangun eksistensi bahasa Indonesia
dalam dunia internasional. Masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial
yang melek teknologi sudah sepatutnya bangga akan penggunaan bahasa Indonesia
dengan tatanan yang yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan
salah satu upaya untuk melestarikan bahasa Indonesia
E.
Kesimpulan
Globalisasi khususnya
di era revolusi 4.0 telah membawa dampak berupa transformasi yang cukup
menyeluruh dalam perkembangan bangsa Indonesia, termasuk dalam bidang
kebahasaan yang erat kaitannya dengan jati diri bangsa Indonesia. Penggunaan
bahasa Indonesia dewasa ini didominasi oleh bahasa Indonesia tidak baku, bahkan
jauh dari tatanan kebahasaan Indonesia yang baik dan benar. Eksistensi bahasa
Indonesia dewasa ini mulai tergeser oleh bahasa gaul dan bahasa asing.
Namun, kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional
tetap harus dijunjung tinggi. Olefh karena itu, setiap warga negara khususnya
generasi milenial yang memegang andil besar dalam pembangunan bangsa harus ikut
serta membina dan mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
F.
Daftar
Rujukan
Ahuett-Garza, H., & Kurfess, T.
(2018). A brief discussion on the trends of habilitating technologies for
Industry 4.0 and Smart manufacturing. Manufacturing Letters, 15,
60–63. https://doi.org/10.1016/j.mfglet.2018.02.011
Assapari, M. M. (2014). Eksistensi Bahasa Indonesia
Sebagai Bahasa Nasional Dan Perkembangannya Di Era Globalisasi. Prasi, 9(18)
Devianty, R. (2017). Bahasa sebagai
cermin kebudayaan. Jurnal tarbiyah, 24(2).
Fairclough, N. (2009). Language and globalization. Semiotica,
2009(173),
317-342.
https://doi.org/10.1515/SEMI.2009.014
Frank, A. G., Dalenogare, L. S., & Ayala, N. F.
(2019). Industry 4.0 technologies: Implementation patterns in manufacturing
companies. International Journal of Production Economics, 210,
15–26. https://doi.org/10.1016/j.ijpe.2019.01.004
Generasi emas Indonesia 2045.pdf. (n.d.).
Gubán, M., & Kovács, G. (2017). INDUSTRY
4.0 CONCEPTION. Acta Technica Corviniensis-Bulletin of Engineering, 10(1),
111.
Murti, S. (2015). Eksistensi Penggunaan Bahasa
Indonesia Di Era Globalisasi. 8.
Noermanzah, H.F.
(2019). Development of Competency-Based Poetry Learning Materials for Class X
High Schools. International Journal of Recent Technology and Engineering,
8(4), 6631–6638. https://doi.org/10.35940/ijrte.D8855.118419
PWC. (2016). Industry 4.0: Building the digital
enterprise. 36.
Ramdhani, I. S. (2019). Sikap Berbahasa,
Pemertahanan Bahasa, dan Peran Generasi Milenial terhadap Perkembangan Bahasa
Indonesia.
In Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra (pp, 277-283)
Rondiyah, A. A., Wardani, N. E., & Saddhono, K.
(2017). Pembelajaran Sastra Melalui Bahasa Dan Budaya Untuk Meningkatkan
Pendidikan Karakter Kebangsaan Di Era MEA (Masayarakat Ekonomi ASEAN). Proceedings Education and
Language International Conference. 1(1)
Solin, M. (2010).
Peranan Bahasa Indonesia Dalam Membangun Karakter Bangsa. Jurnal Bahas, 20(3)
Sulaeman, A. (2017). Structure Of Sunda In Tangerang
Regency And The Territory Of Use. Indonesian Language Education and
Literature, 3(1), 15-23.
https://doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1555
Wang, L., Törngren, M., & Onori, M. (2015).
Current status and advancement of cyber-physical systems in manufacturing. Journal
of Manufacturing Systems, 37, 517–527.
https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2015.04.008
Widyartono, D. D. (n.d.-a). Peran Bahasa Indonesia
Melalui Pendidikan 6.0 Untuk Generasi Emas 2045. 11.
Widyartono, D. D. (n.d.-b). Sadar Berbahasa
Indonesia Untuk Membangun Bangsa Dan Menghadapi Perubahan Tren Dunia. 10.
Waaahh mantap 😆
BalasHapusWaaahh mantap 😆
BalasHapus