Eksistensi Bahasa Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0

 

Eksistensi Bahasa Indonesia di

Era Revolusi Industri 4.0

 

Diana Elisia

Universitas Negeri Malang

dianaelisia79@gmail.com

 

Abstrak. Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara Indonesia dan digunakan sebagai alat komunikasi nasional. Selain itu, bahasa Indonesia juga merupakan cerminan jati diri bangsa sekaligus sebagai alat pemersatu bangsa. Memasuki era globalisasi khususnya revolusi industri 4.0 membawa dampak berupa transformasi hampir pada semua bidang karena globalisasi melibatkan hubungan dialektis beragam unsur sosial, termasuk bahasa. Era yang melahirkan fenomena disruption ini mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Eksistensi  bahasa Indonesia mulai tergeser oleh bahasa asing yang semakin populer karena terdapat stigma bahwa penggunaan bahasa asing lebih berkelas terutama di kalangan milenial. Hal ini menjadi suatu tantangan bagi bangsa Indonesia sendiri untuk menumbuhkan kesadaran berbahasa terutama pada generasi milenial yang merupakan generasi  ujung tombak berdirinya suatu bangsa. Pada akhirnya diperlukan kapabiltas dalam berbahasa Indonesia sehingga dapat dijadikan sebagai sarana untuk memanifestasikan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

 

Kata kunci : Bahasa Indonesia, era globalisasi, milenial

 

 

 

A.    Pendahuluan

Kecenderungan sistem pada abad ke-21 yaitu tuntutan akan produk yang semakin kompleks dengan proses yang lebih efektif dan efisien. Inti dari revolusi industri 4.0 adalah pengenalan network-linked intelligent systems atau sebuah sistem yang terhubung ke jaringan (Gubán & Kovács, 2017). Survei yang dilakukan oleh PWC (2016) mendefinisikan tiga bidang yang menjadi fokus utama, yaitu  digitalisasi dan integrasi rantai nilai vertikal dan horizontal, digitalisasi produk dan layanan, dan model bisnis digital dan akses pelanggan.

Bahasa Indonesia merupakan jati diri bangsa, sebagai sarana pemersatu berbagai suku bangsa, dan sarana komunikasi antardaerah dan antarbudaya daerah. Dalam hal ini, melalui UU No. 24 Tahun 2009 bahasa Indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia juga memiliki fungsi bahasa negara, yaitu sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar resmi dalam pendidikan, komunikasi tingkat nasional, serta sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa (Widyartono, n.d.-a)

Dimensi bahasa berhubungan dengan proses globalisasi. Hal ini dikarenakan semua proses globalisasi kontemporer yang sangat beragam secara inheren memiliki dimensi bahasa dan pada umumnya, perubahan sosial adalah proses yang melibatkan hubungan dialektis antara beraram elemen, termasuk bahasa di dalamnya (Fairclough, 2009). Sejalan dengan maraknya perkembangan di era globalisasi, penggunaan bahasa asing juga semakin menjadi prioritas terutama di kalangan kaula muda.

Bangsa Indonesia harus siap dalam menghadapi tantangan lingustik pada era globalisasi, terutama pada era revolusi industri 4.0. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (2018) menyatakan salah satu pilar penopang tercapainya cita-cita dan impian Indonesia tahun 2085 yaitu pembangunan Sumber Daya Manusia dan penguasaan Iptek. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menyiapkan diri mulai sekarang (Widyartono, n.d.-a) dan segera keluar dari masa redup identitas bangsa.

 

B.     Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Pembangunan Bangsa

            Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Republik Indonesia mempunyai fungsi khusus sesuai kepentingan bahasa Indonesia (Devianty, 2017). Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, merupakan suatu alat yang digunakan untuk menjalankan administrasi negara, surat menyurat dinas, peraturan-peraturan, Undang-Undang, pidato. Sebagai bahasa persatuan, dalam perjalanan yang panjang bahasa Indonesia  telah menmpati kedudukan penting bahkan menjadi lambang jati diri bangsa serta sebagai alat untuk mempersatukan berbagai suku di Indonesia. Bahasa Indonesia memainkan peran yang penting dalam mengintegrasikan berbagai macam suku dengan bahasa dan dialeknya sendiri.  Sebagai bahasa kebudayaan, dalam pembinaan kebudayaan nasional bahasa Indonesia berperan sebagai satu—satunya alat sebagai penampung kebudayaan. Segala ilmu pengetahuan dan kebudayaan harus diajarkan dan diperdalam dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat pengantarnya.

            Kita sebagai warga Indonesia patut bangga karena kedudukan bahasa Indonesia dalam hubungan dengan masyarakat bangsa-bangsa di dunia dianggap sebagai salah satu bahasa penting dan banyak dipelajari oleh masyarakat internasional (Widyartono, n.d.-b). Hal ini didukung oleh upaya Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) yang terus mengirimkan tenaga pengajar BIPA ke berbagai negara. Berdasarkan data yang disajikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2019) mengenai pengiriman BIPA pada tahun 2015-2018 terus menunjukkan peningkatan pada jumlah pemelajar.

 

C.    Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya Terhadap Eksistensi Bahasa Indonesia

Perkembangan teknologi serta munculnya Internet of Things (IoT), cloud services, big data dan analytics mendukung terciptanya konsep Cyber Physical System (CPS) industri 4.0 (Wang et al., 2015). Kerangka kerja konseptual teknologi industri 4.0 disusun oleh Frank et al., (2019) yang terbagi menjadi dua lapisan. Lapisan pertama (Industry 4.0 front-end technologies) terdiri dari empat dimensi utama industri 4.0 : Smart manufacturing atau manufaktur cerdas, smart products atau produk cerdas, Smart Supply Chain atau rantai pasokan cerdas, dan Smart working atau kerja cerdas. Teknologi manufaktur cerdas bertugas mempertimbangkan teknologi yang diterapkan dalam sistem produksi sehingga (Ahuett-Garza & Kurfess, 2018) dalam (Frank et al., 2019) menyimpulkan bahwa smart manufacturing merupakan pilar sentral atau tujuan utama dari industri 4.0, sedangkan produk cerdas merupakan sistem perluasan dari manufaktur cerdas karena untuk menambah nilai eksternal produk, diperlukan informasi data pelanggan yang terintegrasi dengan sistem produksi.  Rantai pasokan cerdas mencakup teknologi untuk meningkatkan pengiriman bahan baku dan produk jadi sehingga sistem yang baik berdampak pada pengurangan biaya operasiona dan waktu pengiriman. Kerja cerdas bertugas untuk mempertimbangkan teknologi yang diterapkan untuk meningkatkan kinerja pekerja sehingga memastikan bahwa pekerja bekerja dengan lebih produktif dan fleksibel.

Globalisasi adalah serangkaian proses transformasi dalam organisasi yang menghasilkan hubungan antarwilayah dan jaringan aktivitas interaksi, dan penggunaan kekuasaan. Interaksi jaringan di industri 4.0 mancakup interaksi antarwilayah global, dan  hubungan dalam konteks ini merepresentasikan dimensi bahasa. Tidak dapat dihindari bahwa globalisasi adalah sekumpulan transformasi (dalam segala aspe kehidupan) yang benar-benar terjadi di lingkup global (Fairclough, 2009). Perkembangan jaman yang semakin modern rentan terpengaruh oleh globalisasi sehingga dapat dengan mudah mengeliminasi peran bahasa (Murti, 2015; Solin, 2010). Salah satu faktor yang mendukung lingkup kehidupan mengglobal adalah media massa atau industri komunikasi. Menurut (Fairclough, 2009) media televisi merupakan perantara komunikasi antar masyarakat. Media televisi semakin memerikan akses tak terbatas mengenai gaya hidup, informasi, serta linguistik yang melampaui lingkup internal diri sendiri. Dampak negatif yang ditimbulkan salah satunya yaitu bahasa yang tak dikendalikan serta disaring terlebih dahulu oleh masyarakat.

Jika dilihat dari geopolitik bahasa Indonesia dalam konteks komunikasi di era globalisasi, khususnya era revolusi industri 4.0 memberikan peluang sekaligus ancaman bagi eksistensi bahasa Indonesia di ruang publik (Rondiyah et al., 2017). Tak dipungkiri bahwa pemimpin Indonesia juga kerap kali menggunakan bahasa asing dalam rangka untuk mengungkapkan pikirannya. Masyarakat lebih memilih media massa atau jejaring sosial yang menggunakan struktur bahasa Indonesia populer, khususnya di kalangan milenial. Fenomena ini diperkuat dengan munculnya bahasa gaul atau bahasa alay. Sehingga dapat disimpulkan bahwa krisis identitas bangsa merupakan akibat dari melemahnya beran bahasa. (Muslich, 2010) dalam (Assapari, 2014) menyatakan bahwa terdapat beberapa fenomena negatif penggunaan bahasa di masyarakat Indonesia antara lain

a.       Mayoritas masyarakat Indonesia kurang menguasai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, dengan bangga menunjukkan kebolehan dalam mengunakan bahasa Inggris.

b.      Penguasaan bahasa Inggris menjadi lebih diutamakan jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia, hal ini dibuktikan dengan fenomena bahwa banyak orang Indonesia akan merasa terkucilkan jika tidak menguasai bahasa asing.

c.       Masyarakat Indonesia cenderung tidak mau mempelajari bahasa Indonesia karena berpendapat bahwa sudah menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Hal ini akan menimbulkan pemilihan kosa kata yang keliru dalam berkomunikasi antar sesama.

d.      Masyarakat Indonesia menganggap bahwa status sosial dapat meningkat jika fasih dalam berbahasa Inggris walaupun penggunaan bahasa Indonesia masih kurang sempurna.

Berdasarkan uraian diatas, (Assapari, 2014) menyatakan bahwa eksistensi penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dalam era globalisasi, khususnya era revolusi 4.0 semakin memudar. Ancaman terhadap eksistensi bahasa Indonesia di ruang publik merupakan fakta atas kehadiran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris

 

D.    Peran Millenial Dalam Pembangunan Bangsa 

            Dalam melaksanakan aktivitas pembangunan bangsa, masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial harus memiliki sikap positif terhadap keberadaan bahasa Indonesia. Ramdhani (2019) menjelaskan bahwa generasi milenial merupakan generasi yang selalu terhubung dengan internet karena generasi milenial hidup saat terjadi peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Dengan kemampuan menguasai teknologi ini, generasi milenial mampu mengembangkan colaboration (kerjasama), communication (komunikasi), creativity (kreativitas), dan critical thinking (berpikir kritis) (Noermanzah & Friantary, 2019) dan seiring perkembangan zaman, kemampuan ini berkembang menjadi 6-C yaitu creatuvuty (kreativitas), colaboration (kerja sama), communication (komunikasi), compassion (kasih sayang), critical thinking (berpikir kritis), dan computational logic (logika komputasi). Sulaeman (2017) menjelaskan bahwa bahasa yang hidup bersama masyarakat merupakan budaya dan aset bangsa dan sudah sepantasnya kita jaga serta kita lestarikan.

            Generasi milenial memiliki andil yang sangat penting dalam mengembangkan bahasa Indonesia sebagai upaya pembangunan bangsa. Jumlah penduduk Indonesia yaitu sekitar 255 juta penduduk, 81 juta diantaranya merupakan generasi milenial (Ramdhani, 2019). Dengan populasi generasi milenial di Indonesia yang terbilang banyak menjadi peluang untuk membangun eksistensi bahasa Indonesia dalam dunia internasional. Masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial yang melek teknologi sudah sepatutnya bangga akan penggunaan bahasa Indonesia dengan tatanan yang yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan bahasa Indonesia

 

E.     Kesimpulan

            Globalisasi khususnya di era revolusi 4.0 telah membawa dampak berupa transformasi yang cukup menyeluruh dalam perkembangan bangsa Indonesia, termasuk dalam bidang kebahasaan yang erat kaitannya dengan jati diri bangsa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia dewasa ini didominasi oleh bahasa Indonesia tidak baku, bahkan jauh dari tatanan kebahasaan Indonesia yang baik dan benar. Eksistensi bahasa Indonesia dewasa ini mulai tergeser oleh bahasa gaul dan bahasa asing. Namun, kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional tetap harus dijunjung tinggi. Olefh karena itu, setiap warga negara khususnya generasi milenial yang memegang andil besar dalam pembangunan bangsa harus ikut serta membina dan mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

 

 

F.     Daftar Rujukan

Ahuett-Garza, H., & Kurfess, T. (2018). A brief discussion on the trends of habilitating technologies for Industry 4.0 and Smart manufacturing. Manufacturing Letters, 15, 60–63. https://doi.org/10.1016/j.mfglet.2018.02.011

Assapari, M. M. (2014). Eksistensi Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Nasional Dan Perkembangannya Di Era Globalisasi. Prasi, 9(18)

Devianty, R. (2017). Bahasa sebagai cermin kebudayaan. Jurnal tarbiyah24(2).

Fairclough, N. (2009). Language and globalization. Semiotica, 2009(173), 317-342. https://doi.org/10.1515/SEMI.2009.014

Frank, A. G., Dalenogare, L. S., & Ayala, N. F. (2019). Industry 4.0 technologies: Implementation patterns in manufacturing companies. International Journal of Production Economics, 210, 15–26. https://doi.org/10.1016/j.ijpe.2019.01.004

Generasi emas Indonesia 2045.pdf. (n.d.).

Gubán, M., & Kovács, G. (2017). INDUSTRY 4.0 CONCEPTION. Acta Technica Corviniensis-Bulletin of Engineering10(1), 111.

Murti, S. (2015). Eksistensi Penggunaan Bahasa Indonesia Di Era Globalisasi. 8.

Noermanzah, H.F. (2019). Development of Competency-Based Poetry Learning Materials for Class X High Schools. International Journal of Recent Technology and Engineering, 8(4), 6631–6638. https://doi.org/10.35940/ijrte.D8855.118419

PWC. (2016). Industry 4.0: Building the digital enterprise. 36.

Ramdhani, I. S. (2019). Sikap Berbahasa, Pemertahanan Bahasa, dan Peran Generasi Milenial terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia. In Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra (pp, 277-283)

Rondiyah, A. A., Wardani, N. E., & Saddhono, K. (2017). Pembelajaran Sastra Melalui Bahasa Dan Budaya Untuk Meningkatkan Pendidikan Karakter Kebangsaan Di Era MEA (Masayarakat Ekonomi ASEAN). Proceedings Education and Language International Conference. 1(1)

Solin, M. (2010). Peranan Bahasa Indonesia Dalam Membangun Karakter Bangsa. Jurnal Bahas, 20(3)

Sulaeman, A. (2017). Structure Of Sunda In Tangerang Regency And The Territory Of Use. Indonesian Language Education and Literature, 3(1), 15-23. https://doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1555

Wang, L., Törngren, M., & Onori, M. (2015). Current status and advancement of cyber-physical systems in manufacturing. Journal of Manufacturing Systems, 37, 517–527. https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2015.04.008

Widyartono, D. D. (n.d.-a). Peran Bahasa Indonesia Melalui Pendidikan 6.0 Untuk Generasi Emas 2045. 11.

Widyartono, D. D. (n.d.-b). Sadar Berbahasa Indonesia Untuk Membangun Bangsa Dan Menghadapi Perubahan Tren Dunia. 10.

 

Komentar

Posting Komentar